Tuesday, December 19, 2006

GPS, dari yg Termurah Sampai yg Termahal

GPS adalah teknologi yg cerdas... ya, saat ini tak seorangpun akan menyangkalnya. Dengan merogoh kocek dalam bilangan yg tak banyak (baca: murah) kita dapat memiliki pemandu arah "setia" yg selalu siap membantu kita saat berkendara di jalan raya. Kita dapat menggunakan GPS untuk mengetahui berapa jarak dan waktu yg dibutuhkan untuk sampai ke tujuan, rute terpendek, wayout atau exit saat jalan macet, atau bahkan mengetahui kecepatan dan jarak yg telah kita tempuh selayaknya kita melihat speedometer atau odometer pada sepeda motor. Tak hanya itu, GPS juga mampu memperkirakan sunset dan sunrise bagi para pecinta alam, menyimpan lokasi tempat menarik saat berekreasi atau bahkan menentukan waktu dan tempat yg tepat untuk memancing ikan.


GPS bukan barang mahal? okey mari kita buktikan. Cobalah buka google dan pilih tab image, kemudian ketik "PODO GPS" (sebuah merk handheld GPS receiver). Ikuti link dari gambar PODO GPS yg ditampilkan (http://www.ansund.com). Pada kolom review dapat dijumpai bahwa harganya hanya berkisar antara 700-800 ribu rupiah.. murah sekali!. Hebatnya lagi produk ini sudah dilengkapi bluetooth untuk interkoneksi antar device. Hmm... tapi seperti pepatah jawa "ono rego ono rupo" (ada uang ada barang), artinya harga akan menentukan kualitas yang kita dapat, untuk receiver sekelas ini maka pengguna harus puas dengan akurasi sekitar 15-30 meter secara umum atau 5-15 meter pada keadaan khusus [1] . Merk GPS yg telah disebut diatas adalah salah satu dari sekian banyak pabrikan GPS genggam (handheld) yg beredar di pasar. Beberapa merk lain yg popular adalah Garmin, Magellan, Lowrance dan Cobra. Merk pertama dan kedua relatif lebih mahal dari merk ketiga dan keempat. Namun sampai saat ini garmin dan magellan lebih disukai pengguna GPS karena kualitasnya yg bagus dan support-nya yg lengkap (software dan firmware-update serta peta digital untuk seluruh daerah di dunia) maupun kompatibilitas ketika dikoneksikan dengan alat lain. Masing-masing dari empat merk tersebut harganya berkisar antara 1 sampai 7,5 juta rupiah.

Hampir semua merk handheld GPS yg beredar di pasar menawarkan fitur untuk penentuan posisi dengan akurasi yg lebih baik (1-5m) dengan layanan koreksi DGPS [2] maupun sistem area augmentasi satelit [3]. Nah, sayangnya untuk pengguna di Indonesia harus bersabar karena sampai saat ini Indonesia belum mempunyai sistem area augmentasi satelit sendiri maupun stasiun pemancar koreksi (beacon) untuk DGPS. Salah satu cara untuk meningkatkan akurasi handheld GPS bagi pengguna di Indonesia adalah dg menggunakan IBAS (internet based augmentation system) maupun IBGPSC (internet based GPS correction). Koreksi dikirimkan dari CORS (Continuous Operating Reference System) yg online 24 jam nonstop, melalui jaringan internet. Teknik ini merupakan solusi praktis karena mahalnya biaya teknik area augmentasi satelit dan DGPS konvensional. Metode ini sedang dikembangkan di Indonesia. Bagi pengguna yg menginginkan ketelitian yg lebih baik lagi (sub meter accuracy) dapat menggunakan beberapa software yg memungkinkan pemrosesan data baik secara post-processed maupun real-time. Beberapa perangkat lunak berlisensi yang dapat digunakan adalah GRINGO, P4 dan Kinpos. Ketiga software tersebut dikembangkan oleh Institute of Engineering Surveying and Space Geodesy (IESSG) University of Nottingham. IESSG telah banyak meneliti tentang penggunaan handheld GPS untuk penentuan posisi secara teliti sejak awal tahun 2000. Beberapa hasil studi IESSG membuktikan bahwa handheld GPS bahkan bisa digunakan untuk aplikasi rekayasa (engineering), salah satunya adalah untuk pemantauan vibrasi dan defleksi vertikal jembatan secara real-time.



Selain handheld GPS, ada 2 tipe GPS receiver lain yakni Mapping dan Survey Grade (Geodetic) GPS. Mapping receiver harganya berkisar antara 20-80 juta rupiah sedangkan geodetic receiver berkisar antara 100-500 juta rupiah, hmm.. harga yg terbilang masih sangat mahal secara umum untuk negara berkembang seperti Indonesia atau bahkan untuk negara-negara maju sekalipun. Receiver tipe Mapping banyak digunakan untuk proses akuisisi data GIS (Geographic Information System), sedangkan Geodetic GPS banyak digunakan untuk aplikasi-aplikasi yg menuntut ketelitian tinggi seperti pemantauan gerakan lempeng tektonik di seluruh Indonesia, deformasi bangunan-bangunan besar (contoh; Candi Borobudur) pemantauan aktivitas gunung berapi (contoh; Gunung Merapi), atau untuk pengukuran titik kontrol pemetaan dll. Beberapa pabrikan yg bersaing dalam memproduksi Mapping dan Geodetic GPS adalah Leica, Trimble, Ashtech dan Topcon (Javad).


Keterangan:
[1] Keadaan khusus adalah keadaan dimana bias dan kesalahan minimum:
- Sky View bagus, daerah terbuka dan minim halangan (pohon, gedung tinggi, tebing dll)
- Konfigurasi satelit ideal
- Keadaan diam atau bergerak lambat.

[2] DGPS memungkinkan penentuan posisi secara real-time dengan akurasi 1-5 meter.
Koreksi data dipancarkan dari stasiun-stasiun koreksi (beacon) yang biasanya terletak di dekat pantai. Data koreksi DGPS pada umumnya berformat RTCM-104. Format data ini merupakan format standar dari The Radio Technical Commission for Maritime service dan sudah digunakan diseluruh dunia, terutama pada bidang navigasi laut.

[3] Sistem augmentasi satelit atau Wide Area Differential GPS:
Pada prinsipnya hampir sama dengan DGPS. WADGPS menggunakan titik-titik referensi yg tersebar melingkupi daerah tertentu yg siap mengirimkan koreksi kepada pengguna GPS
- WAAS : Amerika
- EGNOS:
Eropa